Gambar

1. Evaluasi

  • Pasca kenaikan status ke Level IV (Awas), pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan adanya asap dari bibir kawah hingga setinggi 1500 meter dari bibir kawah dengan intensitas putih tipis sampai sedang dengan tekanan lemah dan mulai mengalami penurunan pada tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500 meter dari bibir kawah dengan intensitas putih tipis sampai tebal dengan tekanan lemah.
  • Pasca kenaikan status ke Level IV (Awas), tingkat kegempaan G. Agung secara umum tampak masih menunjukkan peningkatan yang signifikan. Gempa Vulkanik Dalam (VA) yang mengindikasikan proses peretakan batuan di dalam tubuh gunungapi yang diakibatkan oleh tekanan fluida magmatik dari kedalaman. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan terus  menurun  jumlahnya  dengan  amplituda  berkisar 4-8  mm.  Gempa Vulkanik Dangkal  (VB)  juga  mulai  terekam  menurun  jumlahnya  secara konsisten sejak 20 Oktober 2017 dengan amplituda kegempaan vulkanik berkisar antara  3-8 mm.Aktivitas  Gempa  Tektonik  Lokal  yang mengindikasikan perubahan stress pada struktur (sesar) di sekitar G. Agung akibat pergerakan magma masih terekam dengan jumlah yangrelatif menurun secara konsisten dengan amplituda berkisar 5-8 mm.
  • Analisis pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung kali ini mengindikasikan bahwa penurunan yang terjadi mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi.
  • Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal  29  Oktober 2017  menunjukkan  aktivitas  hembusan  gas  di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding dengan kondisi sebelumnya yaitu pada 20 Oktober 2017.
  • Pemantauan  termal  dengan menggunakan  citra  satelit  Sentinel-2 selama bulan September dan Oktober 2017 merekam anomali termal berupa titik-titik tembusan gas. Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan  adanya  penurunan  luas  area panas  di dalam Kawah Gunung Agung.

2.  Potensi Bahaya
  • Sejarah aktivitas erupsi G. Agung dicirikan oleh erupsi-erupsi yang bersifat eksplosif dan efusif dengan pusat kegiatan di G. Agung yang terletak di dalam Kawah G. Agung
  • Berdasarkan sejarahnya, jika terjadi letusan G. Agung seperti pada tahun 1963 maka potensi bahaya yang mungkin terjadi dapat berupa lontaran piroklastik (bom vulkanik/batu panas), hujan abu, aliran piroklastika, aliran lava, hingga banjir lahar. Jika terjadi letusan, potensi bahaya primer yang dapat terjadi di dalam radius 9 km berupa jatuhan piroklastik dengan ukuran sama atau lebih besar dari 6 cm.
  • Hasil pemodelan potensi sebaran hujan abu menunjukkan bahwa jika terjadi letusan saat ini dengan asumsi indeks eksplosivitas letusan VEI III maka sektor Barat, Baratlaut dan Utara dari G. Agung adalah sektor yg paling terancam. Sektor tersebut berpotensi terlanda hujan abu lebat dengan ketebalan maximum mencapai 1.6 meter (hingga jarak 15 km dari Puncak Gunung Agung) dan ketebalan maximum 0.4 meter (hingga jarak 30 km dari Puncak Gunung Agung).
  • Hasil  pemodelan potensi  aliran  piroklastik  (Awan  Panas)  dengan  asumsi bahwa letusan pembuka memiliki volume letusan 10 juta m3, maka aliran piroklastika dapat berpotensi meluncur ke sektor Utara-Timurlaut, Tenggara, dan Selatan-Baratdaya dengan jangkauan sekitar 10 km dalam waktu kurang dari 3 menit. Namun jika volume letusan melebihi 10 juta m3, maka aliran piroklastika dapat berpotensi meluncur ke sektor Utara-Timurlaut, Tenggara, dan Selatan-Baratdaya dengan jangkauan melebihi 10 km. Oleh karena itu, ke depan PVMBG dapat mengubah rekomendasi gunungapi sesuai dengan perkembangan data pemantauan terbaru.
  • Ancaman bahaya aliran piroklastik (Awan Panas) tersebut di atas maupun aliran lava utamanya berada pada sektor utara lereng G. Agung terutama di daerah  aliran  sungai  Tukad  Tulamben, Tukad  Daya,  Tukad  Celagi  yang berhulu di area bukaan kawah, pada sektor Tenggara terutama di daerah aliran Sungai Tukad Bumbung, dan pada sektor Selatan-Baratdaya terutama di daerah Pati, Tukad Panglan, dan Tukad Jabah.

3. Kesimpulan
  • Berdasarkan  hasil  analisis  data  visual  dan  kegempaan  serta mempertimbangkan  potensi  ancaman  bahayanya,  maka  pada  tanggal  29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
  • Meskipun  status  aktivitas  Gunungapi  Agung  telah diturunkan  ke Level III (Siaga) namun perlu dipahami bersama bahwa aktivitas vulkanik Gunungapi Agung belum mereda sepenuhnya dan masih memiliki potensi untuk meletus. 

4. Rekomendasi
  • Masyarakat di sekitar  G.  Agung dan  pendaki/pengunjung/wisatawan  agar tidak  berada,  tidak  melakukan  pendakian dan  tidak  melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan- Baratdaya sejauh 7.5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru. Daerah yang terdampak antara lain Dusun Br. Belong, Pucang, dan Pengalusan (Desa Ban); Dusun Br. Badeg Kelodan, Badeg Tengah, Badegdukuh, Telunbuana, Pura, Lebih dan Sogra (Desa Sebudi); Dusun Br. Kesimpar, Kidulingkreteg, Putung, Temukus, Besakih dan Jugul (Desa Besakih); Dusun Br. Bukitpaon dan Tanaharon (Desa Buana Giri); Dusun Br. Yehkori, Untalan, Galih dan Pesagi (Desa Jungutan); dan sebagian wilayah Desa Dukuh.
  • Jika  erupsi  terjadi  maka  potensi  bahaya  lain  yang  dapat  terjadi  adalah terjadinya hujan abu lebat yang melanda seluruh Zona Perkiraan Bahaya. Hujan  abu  lebat  juga  dapat meluas  dampaknya  ke  luar  Zona  Perkiraan Bahaya bergantung pada arah dan kecepatan angin. Pada saat rekomendasi ini diturunkan, angin bertiup dominan ke arah Selatan-Tenggara. Oleh karena itu, diharapkan agar hal ini dapat diantisipasi sejak dini terutama dalam menentukan lokasi pengungsian.
  • Mengingat adanya potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) pada manusia maka diharapkan seluruh masyarakat, utamanya yang bermukim di sekitar G. Agung maupun di Pulau Bali,  segera  menyiapkan  masker   penutup  hidung  dan mulut  maupun pelindung mata sebagai upaya antisipasi potensi bahaya abu vulkanik.
  • Pemerintah Daerah beserta jajarannya maupun BNPB agar segera membantu dalam membangun jaringan komunikasi melalui telepon seluler (Grup WhatsApp) maupun komunikasi melalui radio terintegrasi untuk mengatasi keterbatasan sinyal telepon seluler di antara pihak-pihak terkait mitigasi bencana  letusan  G.  Agung.  Diharapkan  agar proses  diseminasi  informasi yang rutin dan cepat dapat terselenggara dengan baik.
  • Seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan agar terus mengikuti perkembangan aktivitas G. Agung secara rutin karena data pengamatan dapat secara cepat berubah sehingga upaya-upaya preventif untuk menjamin keselamatan udara dapat dilakukan.
  • Seluruh  pihak  agar  menjaga  kondusivitas  suasana  di  Pulau  Bali,  tidak menyebarkan berita bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Agung yang tidak jelas sumbernya.
  • Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kabupaten Karangasem dalam memberikan informasi tentang aktivitas G. Agung.
  • Masyarakat di sekitar G. Agungdan pendaki/pengunjung/wisatawan diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan dan mengikuti himbauan Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota, BPBD Provinsi/Kabupaten/Kota beserta aparatur terkait lainnya sesuai dengan rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi sehingga jika diperlukan upaya-upaya mitigasi strategis yang cepat, dapat dilakukan dengan segera dan tanpa menunggu waktu yang lama.
  • Seluruh masyarakat  maupun Pemerintah Oaerah, BNPB, BPBO Provinsi Bali, BPBD Kabupaten  Karangasem, dan instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan  tingkat aktivitas  maupun rekomendasi    G. Agung setiap saat melalui  aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.vsi.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Partisipasi masyarakat  juga sangat diharapkan dengan melaporkan  kejadian-kejadian  yang berkaitan  dengan aktivitas G. Agung melalui fitur Laper Bencana. Para pemangku  kepentingan di sektor penerbangan  dapat mengakses  fitur VONA (Volcano  Observatory Notice for Aviation.

Sumber Data:
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Badan Geologi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral