Gambar

I. Evaluasi

  1. Pasca penurunan status ke Level Ill (Siaga), pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan adanya asap solfatara dikawah G. Agung setinggi 700 meter dari bibir kawah dengan intensitas putih tipis sampai tebal dengan tekanan lemah sampai sedang. Pada tanggal 21 November 2017 pukul 17:05 WITA teramati erupsi yang menghasilkan asap berwarna kelabu tebal dengan tinggi maksimum 700 m di atas bibir kawah. Pada tanggal 25 November 2017 mulai teramati erupsi yang menghasilkan asap berwarna kelabu tebal dengan tinggi maksimum 2000 m di atas bibir kawah. Pada tanggal 26 November 2017 pukul 05.05 WITA erupsi tersebut teramati memilikiketinggian 2000 meter dari atas bibir kawah. Kemudian mengalami peningkatan pada pukul 05.45 dengan perkiraan ketinggian 3000 meter dari atas puncak, hingga mencapai ketinggian 3400 m pada pukul 11 :00 WITA.
  2. Jumlah gempa vulkanik meningkat cukup signifikan pada tanggal 25 November sebelum terjadinya letusan. Energi seismik teramati belum lebih tinggi dari pada saat kondisi Level IV (Awas). Hal ini tidak berarti bahwa potensi letusan lebih kecil, hal ini mengindikasikan bahwa sistem sudah relatif terbuka sehingga gempa-gempa yang berperan dalam membuka jalur ke permukaan jumlahnya tidak banyak. Pasca erupsi tanggal 25 November 2017, kemunculan gempa tremor semakin intensif.
  3. GPS masih menunjukkan pola yang relatif stabil hingga cenderung stasioner. Namun demikian, citra satelit lnSAR pada periode 12-20 November 2017 menunjukkan adanya sinyal deformasi di dalam kawah di sektor Timurlaut. Gunung Agung mengalami inflasi sebelum letusan freatik 21 November 2017 dan inflasi juga masih terus terekam oleh tiltmeter yang terpasang 4 km dari puncak Gunung Agung di sebelah Selatan. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan yang cukup kuat ke permukaan.
  4. Pengukuran gas dengan drone pasca erupsi freatik 21 November 2017 menunjukkan bahwa gas-gas magmatik seperti C02 dan S02 secara konsisten terus teramati. Hal ini mengindikasikan bahwa sumbat lava telah terbuka sehingga ada jalur tempat gas-gas ini dapat keluar dengan lebih mudah. Kemunculan gas C02   dan S02   mengindikasikan bahwa saat ini aktivitas fisis di dalam tubuh G. Agung bersifat magmatik dan tingkatannya relatif tinggi.
  5. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental aktivitas G. Agung, dapat disimpulkan bahwa aktivitas vulkanik G. Agung saat ini berada pada tingkatan yang sangat tinggi sehingga probabilitas untuk terjadi erupsi lebih besar menjadi semakin meningkat. Perlu dipahami bahwa kejadian erupsi tidak dapat dipastikan seberapa besar intensitasnya. Mengestimasi karakter erupsi G. Agung ke depan cenderung lebih sulit dari gunungapi lainnya karena tidak adanya data instrumental sebagai pembanding dengan erupsi sebelumnya. Satu-satunya data yang dapat dijadikan pedoman adalah fenomena rentetan Gempa Terasa yang dirasakan oleh masyarakat di sekeliling G. Agung pada tahun 1963 juga dirasakan pada tahun ini. Namun demikian, upaya mitigasi bencana erupsi perlu dilakukan. Hingga saat ini kecenderungan bahwa aktivitas vulkanik G. Agung meningkat sudah teramati.

II. Potensi Bencana
  1. Sejarah aktivitas erupsi G. Agung dicirikan oleh erupsi-erupsi yang bersifat eksplosif dan efusif dengan pusat kegiatan di G. Agung yang terletak di dalam Kawah G. Agung.
  2. Berdasarkan sejarahnya, jika terjadi erupsi G. Agung seperti pada tahun 1963 maka potensi bahaya yang mungkin terjadi dapat berupa lontaran piroklastik (born vulkanik/batu panas),hujan abu, aliran piroklastika, aliran lava, hingga banjir lahar.Jika terjadi erupsi, potensi bahaya primer yang dapat terjadi di dalam radius 8 km berupa jatuhan piroklastik dengan ukuran sama atau lebih besar dari 6 cm.
  3. Hasil pemodelan potensi sebaran hujan abu menunjukkan bahwa jika terjadi erupsi saat ini dengan asumsi indeks eksplosivitas erupsi VEI Ill maka sektor Barat, Baratlaut dan Utara dari G. Agung adalah sektor yg paling terancam. Sektor tersebut berpotensi terlanda hujan abu lebat dengan ketebalan maksimum mencapai 1.6 meter (hingga jarak 15 km dari Puncak Gunung Agung) dan ketebalan maksimum 0.4 meter (hingga jarak 30 km dari Puncak Gunung Agung).
  4. Hasil pemodelan potensi sebaran abu vulkanik di udara mengindikasikan bahwa abu vulkanik dapat tersebar jauh dari Puncak G.   Agung dan diperkirakan dapat mengganggu operasional penerbangan dari dan ke: Bali, Lombok, Surabaya, dan Banyuwangi. Namun mengenai potensi gangguan abu vulkanik di udara sangat mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga pihak-pihak yang terkait keselamatan penerbangan diharapkan untuk adaptif sesuai dengan kondisi aktual.
  5. Hasil pemodelan potensi aliran piroklastik (Awan Panas) dengan asumsi bahwa erupsi pembuka memiliki volume erupsi 5 juta m3, maka aliran piroklastika dapat berpotensi meluncur ke sektor Utara-Timurlaut, Tenggara, dan Selatan-Baratdaya dengan jangkauansekitar 10 km dalam waktu kurang dari 3 menit. Namun jika volume erupsi melebihi 10 juta m3,   maka a Ii ran piroklastika dapat berpotensi meluncur ke sektor Utara-Timurlaut, Tenggara,
    dan Selatan-Baratdaya dengan jangkauan melebihi 10 km. Oleh karena itu, ke depan PVMBG dapat mengubah rekomendasi gunungapi sesuai dengan perkembangan data pemantauan terbaru.
  6. Ancaman bahaya aliran piroklastik (Awan Panas) tersebut di atasmaupun aliran lava utamanya berada pada sektor utara lereng G. Agung terutama di daerah aliran sungai Tukad Tulamben, Tukad Daya, Tukad Celagi yang berhulu di area bukaan kawah, pada sektor Tenggara terutama di daerah aliran Sungai Tukad Bumbung, dan pada sektor Selatan-Baratdaya terutama di daerah Pati, Tukad Panglan, dan Tukad Jabah.

III. Kesimpulan
  1. Hingga saat ini berdasarkan data yang diamati dan dianalisis secara komprehensif oleh PVMBG, aktivitas G. Agung disimpulkan menunjukkan kecenderungan peningkatan.
  2. Jika erupsi terjadi, terdapat potensi bencana yang cukup besar. Hal ini dapat terjadi karena saat ini banyak masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana. Selain itu, masyarakat di sekeliling Gunung Agung juga belum memiliki pengalaman yang cukup banyak untuk menghadapi erupsi Gunung Agung karena gunungapi ini terakhir meletus pada tahun 1963 (54 tahun yang lalu).
  3. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka terhitung mulai tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status Gunungapi Agung dinaikkan dari Level Ill (Siaga) kelevel IV (Awas).

IV. Rekomendasi
  1. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada,   tidak   melakukan   pendakian   dan   tidak   melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari Kawah G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari Kawah G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru. Daerah yang terdampak antara lain Desa Ban, Dukuh, Baturinggit, Sukadana, Kubu, Tulamben, Datah, Nawakerti, Pidpid, Buanagiri, Bebandem, Jungutan, Duda Utara, Amerta Buana, Sebudi, Besakih dan Pempatan.
  2. Jika erupsi terjadi maka potensi bahaya lain yang dapat terjadi adalah terjadinya hujan abu lebat yang melanda seluruh Zona Perkiraan Bahaya. Hujan abu lebat juga dapat meluas dampaknya ke luar Zona Perkiraan Bahaya bergantung pada arah dan kecepatan angin.Pada saat rekomendasi ini diturunkan, angin bertiup dominan ke arah Timur-Tenggara. Oleh karena itu, diharapkan agar hal ini dapat diantisipasi sejak dini terutama dalam menentukan lokasi pengungsian.
  3. Mengingat adanya potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) pada manusia maka diharapkan seluruh masyarakat, utamanya yang bermukim di sekitar G. Agung maupun di Pulau Bali,segera menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun pelindung mata sebagai upaya antisipasi potensi bahaya abu vulkanik.
  4. Mengingat abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling G. Agung, ditambah dengan curah hujan yang relatif tinggi, maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di G. Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya lahar. Jika lahar mengalir dengan intensitas yang sangat tinggi dan membahayakan keselamatan, masyarakat dapat menjauh sementara ke tempat yang lebih aman sampai kondisi memungkinkan untuk kembali.
  5. Pemerintah Daerah beserta jajarannya maupun BNPB agar segera membantu dalam membangun jaringan komunikasi melalui telepon seluler (Grup WhatsApp) maupun komunikasi melalui radio terintegrasi untuk mengatasi keterbatasan sinyal telepon seluler di antara pihak-pihak terkait mitigasi bencana erupsi G. Agung. Diharapkan agar proses diseminasi informasi yang rutin dan cepat dapat terselenggara dengan baik.
  6. Seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan agar terus mengikuti perkembangan aktivitas G. Agung secara rutin karena data pengamatan dapat secara cepat berubah sehingga upaya-upaya preventif untuk menjamin keselamatan udara dapat dilakukan.
  7. Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Bali, tidak menyebarkan berita bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Agung yang tidak jelas sumbernya.
  8. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kabupaten Karangasem dalam memberikan informasi tentang aktivitas G. Agung.
  9. Masyarakat di sekitar G. Agungdan pendaki/pengunjung/wisatawan diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan danmengikuti himbauan Pemerintah   Daerah,   Pemerintah   Kabupaten/Kota,   BPBD Provinsi/Kabupaten/Kota beserta aparatur terkait lainnya sesuai dengan rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Sadan Geologi sehingga jika diperlukan upaya-upaya mitigasi strategis yang cepat, dapat dilakukan dengan segera dan tanpa menunggu waktu yang lama.
  10. Seluruh masyarakat maupun Pemerintah Daerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Karangasem, dan instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun   rekomendasi G. Agung setiap saat melalui aplikasi MAGMA     Indonesia     yang   dapat   diakses     melalui   website https://magma.vsi.esdm.go.id     atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Partisipasi masyarakat juga sangat diharapkan   dengan melaporkan   kejadian-kejadian   yang berkaitan dengan aktivitas G. Agung melalui fitur Lapar Bencana. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).

Sumber Data:
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Badan Geologi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral